Rabu, 20 Juni 2012

DUA POLA PIKIR


Pikiran mempunyai pola. Dan pola itu menentukan pemaknaan kita terhadap situasi hidup, bahkan kemudian juga memandu respons kita akan segala peristiwa yang hadir dalam hidup. Lalu sebagian orang menjadi optimis, sebagian lagi menjadi pesimis. Sebagian orang menikmati sukses, sebagian lagi terus berkutat dengan kiat-kiat meraih sukses. Sebagian orang menjadi intelektual, sebagian lagi miskin pengetahuan. Sebagian menjadi orang-orang paling kaya, sebagian lagi sibuk dengan upah minimum regional. Sebagian orang berbadan subur, sebagian lagi kurus kering. Sebagian orang merasa rendah diri, sebagian lagi nampak sangat percaya diri. Sebagian orang pandai berkomunikasi, sebagian lagi gagap mengelola informasi. Sebagian orang jadi pengusaha, sebagian lagi menjadi pegawai. Dan mengapa semua perbedaan itu ada? Salah satu jawabannya adalah karena perbedaan pola pikir. Ada variasi pola pikir dalam masyarakat. Setiap pola pikir menggerakkan perilaku tertentu. Sementara setiap perilaku memberikan konsekuensi tertentu.
Disini kita diingatkan, tiap orang bebas memikirkan hal yang mau dipikirkannya. Namun ia terikat kepada konsekuensi yang dimunculkan dari pikiran tersebut. Setiap orang bebas memilih perilaku atau tindakan yang akan diambilnya dalam kehidupan sehari-hari. Namun ia terikat pada konsekuensi yang diakibatkan oleh perilaku yang telah dipilihnya secara bebas itu. Jadi kita bebas memilih, sekaligus terikat konsekuensi. Luar biasa.

Sekarang, mari kita bertanya dari mana pola pikir itu kita peroleh? Apakah ia telah ada begitu saja ketika kita dilahirkan? Apakah ia merupakan sesuatu yang diwariskan oleh orangtua kita? Atau kita sendirikah yang membentuknya? Bagaimana pengaruh lingkungan hidup sekitar? Mungkinkah seseorang memiliki pola pikir yang berbeda dengan pola pikir dominan yang ada di lingkungan dimana ia dibesarkan? Mungkin sebuah negeri yang penuh dengan koruptor, melahirkan orang-orang yang anti-korupsi? Mungkinkah sebuah kaum yang didominasi orang-orang tercela, melahirkan orang-orang suci? Bisakah di kalangan bandit muncul ulama atau pendeta? Dan di kalangan santri atau rohaniawan, muncul penjahat-penjahat tak bermoral? Dapatkah anak pengusaha menjadi pegawai, dan anak pegawai menjadi pengusaha? Bagaimana bisa? Mengapa tidak bisa?
Seorang kawan menggurui saya dengan mengatakan bahwa pola pikir dibentuk lewat proses pengasuhan. Sampai usia 3 tahun pertama, seorang anak manusia boleh dikatakan ”menelan” semua perlakuan yang diterimanya, dan menyimpannya dalam memori otak. Lalu 5 tahun berikutnya ia juga masih lahap menelan sebagian besar (tidak semua) hal yang masuk melalui panca indranya. Dan sampai diusia sekitar 13 tahun barulah terbentuk semacam filter dalam pikirannya. Dengan filter itu ia menyaring segala peristiwa yang masuk ke dalam pikirannya. Dengan filter itu juga ia memberi makna pada setiap peristiwa yang dialami oleh inderanya (visual-auditori-kinestetik-gustatori-olfactori). Ia mulai bisa berpikir untuk memilih dan memilah-milah secara sadar. Dengan kata lain, pola pikir dibentuk lewat proses pembelajaran untuk tumbuh dan berkembang menjadi manusia utuh.
Masalahnya, pola pikir ini kemudian menghadapkan setiap orang kepada pilihan untuk mempercayai apakah kemampuan seseorang itu bersifat tetap dan permanen (setelah usia tertentu) atau selalu tumbuh dan berkembang (sampai usia berapapun). Jika pola pikir bersifat tetap, maka yang diperlukan hanyalah pembuktian diri. Namun, jika pola pikir itu sendiri dapat terus dikembangkan melalui proses pembelajaran, maka tidak jelas batas kemampuan (atau kecerdasan) seorang anak manusia sepanjang ia masih terus belajar mengembangkan dirinya.
Konsekuensi bahwa pola pikir tetap versus pola pikir berkembang mengingatkan kita akan perseteruan pandangan mengenai apakah kecerdasan bersifat tetap atau berkembang dengan pengalaman dan perlakuan. Apakah kecerdasan bersifat genetis atau karena pengkondisian lingkungan. Orang cerdas itu karena bawaan (nature) atau hasil binaan (nurture). Orang cerdas karena bakatnya atau karena usahanya yang terus menerus.
Kita bersyukur bahwa dewasa ini perseteruan pandangan seperti di atas sudah dapat kita sikapi secara lebih baik. Kita, misalnya, dapat mengutip pernyataan ilmuwan ahli saraf terkemuka Gilbert Gottlieb, bahwa sebenarnya gen atau bakat dan lingkungan tidak saja bekerja sama seiring dengan perkembangan kita, tetapi gen atau bakat juga membutuhkan masukan dari lingkungan untuk dapat bekerja secara tepat. Kita juga dapat mengingat kembali pernyataan Alfred Binet—sang pencipta tes IQ yang terkenal itu—bahwa orang yang pada awalnya paling cerdas tidak selalu menjadi yang paling cerdas pada akhirnya. ”Dengan praktik, pelatihan, dan yang terpenting, metode yang tepat, kita dapat meningkatkan perhatian, memori kita, penilaian kita, dan, tentu saja, menjadi lebih cerdas dari sebeumnya,” kata Binet dalam Modern Ideas About Children.
Disamping Gottlieb dan Binet, nama Robert Sternberg juga perlu disebut. Guru kecerdasan mutakhir yang satu ini pernah menulis bahwa faktor terpenting yang menentukan seseorang mencapai keahlian/kompetensi tertentu ”bukanlah kemampuan yang sudah melekat sebelumnya, tetapi pergulatan dengan maksud yang jelas”. Maksud yang jelas, visi dan pandangan jangka panjang yang kuat, motivasi yang kokoh, persistensi dan determinasi bulat, dalam banyak kasus memang mengubah manusia dari kondisi ”tidak bisa” menjadi ”bisa”; dari kondisi ”tidak mampu” menjadi ”berkemampuan”; dari kondisi ”biasa” menjadi ”luar biasa”.


skefo,ini juga cuma saya copy paste...dan kebetulan sangat setuju dengan ini...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tulis komentar anda